-->

Menggali Lebih Dalam Konsep Stabilitas Ibu: Co-Regulation Emosi


Konsep inti dari stabilitas orang tua yang berdampak pada anak adalah Co-Regulation (Ko-Regulasi) Emosi.

Apa itu Co-Regulation? Co-regulation dalam parenting adalah proses di mana orang tua membantu anak mengatur (meregulasi) emosinya sendiri dengan memberikan dukungan, cinta, dan koneksi saat anak tidak dalam keadaan tenang, sehingga anak tersebut mampu melakukan self-regulation (regulasi diri) secara mandiri seiring bertambahnya usia. Inti dari konsep ini adalah anak-anak "meminjam" sistem saraf dan ketenangan emosi orang tua untuk menenangkan diri mereka.

A. Whole-Brain Child & Konsep Otak

Dr. Daniel J. Siegel, seorang neuropsikiater, menjelaskan kaitan antara otak dan emosi dalam pengasuhan.

1. Model Otak Tangan (Hand Model of the Brain)
Ketika seseorang (termasuk ibu) merasa stres atau meledak emosinya, ia sedang "mengalami flipping the lid". Ini berarti bagian otak bawah (emosi reaktif) mengambil alih, sementara otak atas (logika dan pengambilan keputusan) tidak berfungsi optimal.

2. Upstairs Brain vs. Downstairs Brain
Anak yang sedang tantrum dikuasai oleh downstairs brain. Untuk menenangkannya, ibu harus mengaktifkan upstairs brain anak. Ibu hanya bisa membantu anak mengaktifkan upstairs brain jika ibu emosi ibu sendiri sedang stabil (tidak sedang flipping the lid).

3. Name It to Tame It
Salah satu strategi co-regulation adalah membantu anak menyebutkan perasaannya (Name It) untuk menenangkan badai emosi (Tame It). Ibu yang teratur emosinya akan lebih mampu memfasilitasi proses ini daripada ibu yang kewalahan.

4. Pentingnya Mindsight
Mindsight adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Ibu yang punya waktu dan tempat aman untuk memproses emosinya (Parenting from the Inside Out) akan memiliki mindsight yang lebih baik, sehingga dapat memberikan respons yang terarah dan bukan sekadar reaksi (reaktif).

B. Strategi Co-Regulation Praktis untuk Ibu

  1. Tenangkan diri sendiri dulu (first, calm yourself) dengan cara menarik napas dalam-dalam, diam sejenak sebelum merespons. Ingat, anak akan meniru ketenangan atau kepanikan Anda.
  2. Dekati anak dengan kehadiran yang tenang. Caranya, gunakan nada suara yang lembut, kontak mata, dan sentuhan fisik yang menenangkan.
  3. Validasi emosi anak dengan mengakui perasaannya tanpa menghakimi. Contoh: Mama lihat kamu marah sekali karena mainannya rusak. Itu wajar. Ini adalah inti dari Name It to Tame It.
  4. Tentukan batasan dengan lembut. Setelah emosi divalidasi, baru arahkan perilaku. Contoh: Boleh marah, tapi tidak boleh melempar barang.
Baca artikel sebelumnya (klik untuk baca).

Referensi :

0 Response to "Menggali Lebih Dalam Konsep Stabilitas Ibu: Co-Regulation Emosi"

Posting Komentar