Air Mata Luka (Renungan Ramadhan Tahun 2020)


Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, tapi keadaan bumi masih memprihatinkan. Tahun ini jejak langkah banyak tak begitu bebas untuk memberikan kisah membahagiakan dengan adanya pertemuan. Semua dilakukan melalui media online. Keluar rumah dan bertemu orang-orang meski keluarga, seakan menjadi hal yang paling menyeramkan dari jejak langkah yang dilalui dari tahun-tahun sebelumnya.

Hari ini langit kembali menangis. Tiupan angin begitu kencang, disambut suara yang menggelegar. Ada asa yang terselip pada percikan dari langit kali ini, bukan tentang genangan yang tersisa usai membasahi bumi. Apalagi kenangan masa lalu yang masih terekam pada memori. Melainkan tentang kembalinya sikon menjadi normal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Semoga hujannya turun bukan hanya menyapu debu, tapi juga menghilangkan virus-virus dari muka bumi ini. Hujan rintik di penghujung ramadhan kali ini mewakili isi hati, dedoa terus dipanjatkan pada illahi Rabbi. Air yang turun bukan hanya dari langit tapi juga di pelupuk mata.

"Tuhan! Mau sampai kapan keadaan seperti ini?"

Jeritan hati yang terluka melihat keadaan Bumi terus menjadi. Segala upaya telah dilakukan, meski beberapa hal membuat hati memberontak. Sebab, protokol yang membingungkan. Pelanggaran? Hah? Entahlah!

Dunia memang sudah tua, entah berapa lagi waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri; menabung amal untuk kembali pada-Mu. Harapku, kembalikan dunia seperti semula. Air mata sudah mengering, tapi hati terus menjerit. Menangis dalam hati lebih menyesakkan daripada menangis sampai mengeluarkan air mata.

Salam hangat dari hamba Allah yang terus memperbaiki diri.
Irma Dewi Meilinda

Lampung, 20 Mei 2020

0 Response to "Air Mata Luka (Renungan Ramadhan Tahun 2020)"

Posting Komentar