-->

Mengenang Bondan Winarno

Sumber: Gambar diambil langsung dari Perpustakaan Nasional RI (edit kontras, dll)


Nama Bondan Winarno mungkin paling melekat di benak masyarakat Indonesia melalui jargon ikoniknya, "Pokoe maknyus!". Sosok presenter kuliner karismatik ini telah menjelajahi berbagai pelosok Nusantara untuk memanjakan lidah dan mengenalkan kekayaan cita rasa lokal. Namun, apa kamu tahu kalau di balik jejak kulinernya yang tersohor, Pak Bondan adalah seorang wartawan senior, penulis kawakan, dan pecinta literasi sejati?

Jejak pemikirannya tentang dunia buku bahkan diabadikan secara khusus di dinding lantai utama Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas)—sebuah pengingat akan dedikasinya terhadap dunia literasi.

Warisan Serba Bisa: Wartawan, Penulis, dan Pelopor Kuliner

Lahir di Surabaya pada 29 April 1950, Bondan Winarno dikenal sebagai pria dengan berbagai kebisaan. Karirnya membentang luas:
  • Pelopor Jalansutra
Beliau mendirikan dan memimpin komunitas wisata boga Jalansutra, sebuah wadah gathering dan diskusi kuliner yang menjadi kiblat pencinta makanan di Indonesia.
  • Presenter Legendaris
Melalui program Wisata Kuliner di Trans TV, kehangatan dan gaya bahasanya saat mengulas makanan berhasil memikat jutaan penonton. Ungkapan "Maknyus!" bahkan kerap diparodikan masyarakat untuk menggambarkan kondisi yang nyaman dan menyenangkan.
  • Penulis Multitalenta
Karya tulisnya tidak hanya terbatas pada dunia kuliner. Beliau telah melahirkan berbagai bentuk karya literasi, mulai dari cerita anak-anak, cerita pendek, novel, hingga buku-buku analisis manajemen.

Meskipun maestro kuliner dan literasi ini telah tutup usia pada 29 November 2017 di usia 67 tahun—setelah menjalani perawatan kelainan jantung di RS Harapan Kita, Jakarta—warisan pemikiran dan karyanya tetap hidup hingga hari ini.

"Berpacaranlah di Perpustakaan": Puisi Penuh Makna di Perpusnas

Salah satu bukti dedikasi Bondan Winarno terhadap dunia membaca adalah tulisannya yang dipajang elegan di area pintu utama Perpustakaan Nasional RI (24 Lantai). Dikutip dari Majalah Tempo edisi 30 Juli 1983, beliau menuliskan sebuah ajakan yang hangat, tetapi mendalam.

Berpacaranlah di Perpustakaan
Oleh: Bondan Winarno

Perpustakaan pun tidak boleh menjadi sanctum sanctorum yang steril dan sunyi bagai ruang rekaman. Buku dan perpustakaan harus ditarik segaris dengan dimensi manusia.

Berpacaranlah di perpustakaan. Sepi dan sejuk.

Buku adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang setia bersama Anda: di mana saja, kapan saja—kecuali ketika menyelam di laut atau bersembunyi di kolong selama gerhana.

Melalui bait-bait di atas, Pak Bondan ingin mendobrak stigma bahwa perpustakaan adalah tempat yang kaku, membosankan, dan menakutkan (sanctum sanctorum yang steril). Beliau memandang perpustakaan dan buku sebagai bagian alami dari kehidupan manusia—tempat di mana interaksi, kehangatan, dan kedamaian bisa hadir beriringan.

MENGAPA PESAN INI MASIH SANGAT RELEVAN?

Ajakan Bondan Winarno puluhan tahun lalu terasa kian relevan di era modern saat ini.
  • Perpustakaan Ruang Hidup
Perpustakaan modern kini telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif, nyaman, dan sejuk. Tempat di mana orang bisa berkumpul, berdiskusi, bekerja, dan ya... bahkan menikmati waktu berkualitas bersama orang tersayang (berpacaran dalam arti yang positif).
  • Buku Kesetiaan yang Tak Tergantikan
Di tengah bisingnya media sosial dan paparan informasi digital, buku tetap menjadi "guru yang tidak pernah marah" dan teman paling setia untuk menemani perjalanan pikiran kita.

Bondan Winarno tidak hanya mengajarkan kita cara menikmati kelezatan makanan di atas piring, tetapi juga cara menikmati kelezatan ilmu di dalam lembaran buku. Saat kamu berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI, luangkan waktu sejenak di lantai utama untuk membaca bait karyanya, dan ingatlah pesan sang maestro: bawa literasi lebih dekat ke dalam dimensi kemanusiaan kita.

Selamat membaca, dan seperti kata Pak Bondan... salam maknyus!

0 Response to "Mengenang Bondan Winarno"

Posting Komentar